Findy Alfiansyah Penulis
HARIAN EXPRESS, BOGOR – Kekeringan menyebabkan seorang petani di Kayu Manis, Tanah Sareal, Kota Bogor, gagal panen dua kali dengan kerugian mencapai puluhan juta rupiah, Rabu (22/07/2026).
Andriawan (42) merupakan pemilik lahan pertanian di kawasan Kayu Manis, Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat. Ia sendiri yang mengelola area seluas dua hektare tersebut untuk menanam berbagai komoditas pangan.
Sepanjang musim kemarau yang sedang berlangsung tahun ini, Andriawan mengaku telah mengalami gagal panen sebanyak dua kali. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi produktivitas lahan pertaniannya.
Gagal panen tersebut mulai terjadi sejak awal Juni 2026, diakibatkan oleh kondisi kekeringan ekstrem yang melanda wilayah tersebut. Kurangnya pasokan air irigasi menjadi faktor krusial yang mempengaruhi hasil panen.
Komoditas seperti jagung, kangkung, bayam, dan singkong merupakan jenis tanaman yang ditanam di lahan Andriawan. Sebagian besar tanaman ini terdampak kekeringan dan tidak dapat tumbuh optimal.
“Kalau lagi gini (musim kemarau), kalau emang kurang air, ya pasti gagal (panen),” Ujar Andriawan (42).
“Ya paling di sini dua kali lah, dari Juni (2026) lah. Enggak semuanya (gagal panen), dari persentasenya paling 20 persen, 30 persen lah dari 100 persen,” Tambahnya.
Kerugian finansial yang ditanggung Andriawan akibat dua kali gagal panen ini diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Angka ini menunjukkan besarnya dampak ekonomi yang harus dihadapi petani tersebut.
Keadaan ini menyoroti kerentanan sektor pertanian di tengah perubahan iklim, khususnya saat musim kemarau panjang. Petani seperti Andriawan sangat bergantung pada kondisi cuaca yang mendukung.
