Findy Alfiansyah Penulis
HARIAN EXPRESS, BOGOR – Suhu di Bogor meningkat signifikan, pakar IPB Givo Alsepan menjelaskan perubahan iklim, El Nino, dan urbanisasi sebagai penyebab utama, Senin (06/07/2026).
Kota Bogor yang selama ini dikenal sejuk, kini terasa lebih panas dengan suhu siang hari mencapai 32-34 derajat Celsius. Kondisi ini juga disertai frekuensi hujan yang lebih jarang dari biasanya.
Givo Alsepan, dosen dan pakar dari Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, menerangkan bahwa kombinasi fenomena iklim global, pemanasan global, serta urbanisasi memicu peningkatan suhu. Secara klimatologis, suhu udara rata-rata Bogor seharusnya berkisar antara 25,5 hingga 27 derajat Celsius.
Givo menjelaskan, El Nino-Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena interaksi laut dan atmosfer di Samudra Pasifik tropis. Ketika El Nino terjadi, pusat pembentukan awan bergeser ke Pasifik timur, sehingga pasokan uap air ke Indonesia berkurang dan curah hujan menurun.
“Saat ini El Nino sedang berkembang di Samudra Pasifik tropis dan diprediksi berlangsung hingga akhir tahun 2026,” Ujar Givo Alsepan.
“Kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab masyarakat Bogor merasakan cuaca lebih panas dibanding biasanya,” Tambahnya.
Menurutnya, El Nino hanya menjadi pemicu suhu panas dalam jangka pendek. Persoalan yang lebih besar adalah perubahan iklim global yang menyebabkan tren suhu terus meningkat setiap tahun.
Data klimatologi di Bogor menunjukkan peningkatan suhu rata-rata tahunan secara konsisten sejak sekitar tahun 1990. Pola ini sejalan dengan kenaikan suhu rata-rata Bumi akibat pemanasan global.
“Perubahan iklim dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya suhu udara di Bogor. Jika tidak ada upaya mitigasi yang serius, tren pemanasan ini akan terus berlanjut,” jelas Givo Alsepan.
Faktor lain yang memperparah kondisi adalah perubahan bentang alam di Bogor yang memicu fenomena urban heat island. Hal ini terjadi karena berkurangnya ruang terbuka hijau dan semakin meluasnya kawasan terbangun.
Givo mengutip penelitian Nurwanda dan Honjo (2018) yang mencatat ekspansi kawasan perkotaan di Bogor sangat pesat pada periode 1997-2007. Perbedaan suhu antara kawasan urban dan suburban bahkan meningkat dari 1,36 derajat Celsius pada 1990 menjadi hampir 2,26 derajat Celsius pada 2017.
Pembangunan kota yang tidak diiringi perlindungan ruang hijau akan memperkuat dampak perubahan iklim di tingkat lokal. Oleh karena itu, menjaga tutupan vegetasi penting sebagai strategi pembangunan kota.
