Findy Alfiansyah Penulis
HARIANEXPRESS, BOGOR – Sebanyak 71,4 persen siswa di Kota Bogor memiliki tingkat kebugaran fisik rendah berdasarkan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025. Temuan ini menjadi dasar intervensi kesehatan di sekolah, Rabu (26/8/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erna Nuraena, menjelaskan bahwa data CKG 2025 turut menunjukkan 70,65 persen siswa kurang melakukan aktivitas fisik. Kondisi ini menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Bogor dalam upaya meningkatkan kesehatan generasi muda.
Selain kebugaran dan aktivitas fisik, CKG menemukan beragam masalah kesehatan lain yang memerlukan penanganan. Sebanyak 48,79 persen siswa memiliki karies gigi, serta 24,22 persen terdeteksi hipertensi dan pra-hipertensi.
Prevalensi anemia tercatat sebesar 16,87 persen di kalangan siswa, sementara gangguan gula darah ditemukan pada 10,08 persen. Masalah gizi juga mendominasi, dengan 8,24 persen siswa mengalami gizi lebih atau obesitas, dan 8,21 persen menderita gizi kurang atau buruk.
Erna Nuraena menambahkan, hasil pemeriksaan juga mengidentifikasi gangguan penglihatan dan pendengaran pada siswa. Selain itu, terdapat temuan paparan asap rokok pasif serta indikasi gangguan kesehatan jiwa yang perlu ditindaklanjuti.
“Temuan dari Cek Kesehatan Gratis menjadi dasar dalam menentukan intervensi kesehatan di sekolah,” Ujar Erna Nuraena.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menggunakan hasil pemetaan ini sebagai landasan untuk melaksanakan sejumlah intervensi kesehatan. Salah satu langkah konkret adalah program Aksi Bergizi yang fokus pada pencegahan anemia, peningkatan aktivitas fisik, dan pembiasaan sarapan bergizi seimbang.
Program Aksi Bergizi mencakup berbagai kegiatan seperti senam bersama, edukasi kesehatan, serta pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri. TTD diberikan kepada remaja putri berusia 12-18 tahun di jenjang SMP dan SMA atau sederajat, dengan anjuran konsumsi satu tablet setiap pekan untuk mencegah anemia.
Untuk tahun 2026, Pemkot Bogor menargetkan CKG dapat menjangkau 227.045 siswa dari kelas 1 hingga kelas 12. Sasaran ini tersebar di 701 sekolah dan madrasah, terdiri dari 351 SD/MI, 175 SMP/MTs, dan 175 SMA/SMK/MA.
Hingga 14 Agustus 2026, sebanyak 65.706 siswa atau 28,9 persen dari total sasaran tahun tersebut telah mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Sementara itu, realisasi CKG pada tahun 2025 tercatat mencapai 115.543 anak, atau 61,42 persen dari sasaran yang ditetapkan.
Sekretaris Daerah Kota Bogor, Denny Mulyadi, turut menekankan pentingnya deteksi dini kesehatan pada peserta didik.
“Melalui deteksi dini, gangguan kesehatan dapat segera ditangani, sehingga tidak menghambat tumbuh kembang dan prestasi belajar anak-anak,” Ujarnya.


