Findy Alfiansyah Penulis
Dedie A. Rachim mengangkat filosofi Tritangtu sebagai landasan identitas budaya dalam perayaan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544, Minggu (28/6/2026).
Dalam momentum Hari Jadi Bogor tahun ini, filosofi Tritangtu diangkat sebagai tema yang sarat makna. Konsep tersebut menjadi simbol kuat tentang bagaimana masyarakat Bogor dapat terus menjaga warisan budaya di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
Tritangtu sendiri berasal dari naskah kuno Sang Hyang Siksa Kandang Karesian, sebuah manuskrip yang memuat ajaran kehidupan masyarakat Sunda. Naskah tersebut menjadi salah satu warisan penting yang merekam nilai-nilai luhur tentang tata kehidupan, kepemimpinan, dan harmoni sosial.
“Prabu, Rama, dan Resi adalah tiga pilar Tritangtu yang mengajarkan pentingnya kepemimpinan, kepedulian, dan kebijaksanaan dalam menjaga harmoni kehidupan.” Ujar Deide A. Rachim.
Prabu dimaknai sebagai sosok pemimpin yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga tata kelola pemerintahan dan kesejahteraan masyarakat. Pilar ini mencerminkan pentingnya kepemimpinan yang adil, tegas, dan berpihak kepada kepentingan rakyat.
Sementara Rama melambangkan sosok yang memberikan nasihat, arahan, serta kebijaksanaan dalam kehidupan sosial. Adapun Resi menjadi simbol spiritualitas, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai moral yang membimbing masyarakat agar tetap berjalan di jalur yang benar.
Melalui filosofi Tritangtu, Dedie Rachim berharap masyarakat Bogor dapat terus menjaga keseimbangan antara pembangunan, budaya, dan nilai spiritual. Dengan begitu, Hari Jadi Bogor ke-544 tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga momentum untuk memperkuat identitas budaya dan kebersamaan warga.
